TVRINews, Manado
Musim kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Berdasarkan data sementara Dinas Kehutanan Daerah Sulawesi Utara, hasil analisis citra satelit menunjukkan sekitar 1.400 hektare lahan terdampak kebakaran.
Lahan terdampak terluas berada di kawasan lindung Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, dan wilayah sekitarnya. Luas area yang terdampak di kawasan tersebut mencapai sekitar 1.130 hektare, atau sekitar 81 persen dari total luas lahan terdampak karhutla di Sulawesi Utara.
Kepala Dinas Kehutanan Daerah Sulawesi Utara, Rainier Nicko Dondokambey, mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah mengikuti rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan untuk mengantisipasi dan menangani potensi karhutla.
Rainier mengimbau masyarakat turut berperan dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik atau kejadian kebakaran.
“Jika didapati informasi terjadi karhutla, segera melapor ke SKPD atau stakeholder yang berhubungan dengan penanganan karhutla,”ujar Rainier.
Ancaman karhutla menjadi perhatian seiring kondisi cuaca panas dan kering yang meningkatkan potensi kebakaran. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026, sebelum berangsur mereda pada Oktober.
Pemerintah daerah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan hutan dan lahan yang kondisinya kering.










